Rabu, 23 April 2014
tamparan paling hebat adalah kenyataan .
seperti di tusuk belati dan di cabut paksa, perih , sakit .
ada hal-hal yang mampu di simpan rapat-rapat,
ada pula yang harus di buang, di hapus di segala ingatan .
kamu memilih yang mana ?
kenyataan mengharuskan untuk lupa, tapi tidak dengan perasaan-perasaan yang terlanjur suka .
ini untuk kamu; yang enggan ku-sebutkan-namanya .
kamu, silahkan pergi; hati sudah tak ingin membiarkanku merasakan apa-apa tentangmu (lagi)
Ini bukan perihal apa-apa
Jika memang hati sudah menetapkan pada sesiapa yang akan tinggal, apakah tega di biarkan pergi?
Hati tak pernah bisa di paksakan
Tentang siapa yang akan tinggal
Pun pergi
Tapi,
Jika memang saling menginginkan, akankah hanya sekedar menjadi angan?
Dini hari pukul sekian,
Tepat di sepertiga malam aku berdoa .
Mulut tak bergeming, diam; hati berkecamuk, seisi kepala di penuhi pikiran; tentangmu.
ialah kamu; seseorang yang tak jua di amien-kan oleh semesta .
Doa-doa menjelma taman, disana ada seorang anak kecil sedang berlarian riang .
Ia membawa sekotak bingkisan untukku, " kak .. ini untuk kakak "
aku membukanya ..
" inilah rindu, yang tak pernah habis di makan waktu, inilah rindu, yang masih tentangmu "
Akupun tersenyum .
Ini bukan perihal apa-apa
Ini tentang, siapa yang pantas pergi, dan siapa yang pantas; untuk di nanti ~
Sabtu, 05 April 2014
Selasa, 01 April 2014
Langganan:
Postingan (Atom)
-
belaianmu mencipta sebuah malam. denting melodi dari jemarimu menjelma taman bunga; tempatku bermain; membunuh rasa yang kusam--ma...
-
merayakan rindu senin dini hari pukul sekian, rinduku riuh memanggil namamu. malam ini, tepat 2 tahun kita tidak bertemu...
-
Parameter Bahagia Teruntuk kamu, laki-laki yang pernah aku cintai sejadi-jadinya . Dulu, kita pernah punya mimpi y...
