Jumat, 10 April 2020


Surat Untuk Lelakiku 



Selamat malam, Mas. Malam ini kita baru saja bertemu tapi entah mengapa rindu tetap saja menggebu. Untuk menghilangkan sedikit rasa kangenku tidak ada salahnya aku menuliskan surat cinta untukmu; laki-laki yang telah berhasil menggenapi seluruh yang ada padaku. 

Sebelum bertemu denganmu, kau mungkin sudah tahu, di malam-malam sebelumnya aku banyak berbincang dengan Tuhan perihal cinta. Tak perlu banyak kriteria, inginku cukup dihadirkan seseorang yang baik dan pandai dalam bersetia.

" Tuhan... tolong dekatkanlah aku dengan laki-laki yang pandai bersetia, yang tak gemar menyakiti serta yang mampu menyayangiku sebaik ia mencintai ibunya." 
Begitulah kira-kira gambaran isi doaku.

Aku percaya bahwa rencana Tuhan selalu tepat waktu. Tak lama setelah itu, semesta mengaminkan doa-doaku. Tuhan akhirnya mempertemukanku dengan laki-laki yang bersedia menjadi pendamping sekaligus teman berbagi cerita yang seru. Laki-laki itu adalah kamu.

Laki-laki luar biasa yang tak pernah sekalipun meminta aku menjadi orang lain. Seluruh yang ada padaku diterima dengan baik olehmu. Sejak bertemu denganmu, pemahamanku tentang mencintaipun berubah. Katamu, mencintai berarti menerima. Tak perlu mengubah apalagi memaksanya untuk menjadi sempurna agar bisa diterima dan dicintai oleh pasangan. Mencintai adalah menumbuhkan rasa aman dan nyaman. Ya, sesederhana itu.

Tapi, itu saja menurutku tidak cukup. Cinta pastinya juga butuh kekuatan yang lebih besar dari sekedar memberikan rasa aman dan nyaman. Oleh karena itu, aku ingin terus menjadi seseorang yang selalu menemani dan memelukmu lengkap dengan cerita jatuh bangunnya hidupmu. Menjadi penyemangat sekaligus pendamping di saat sedih dan juga bahagiamu. 

Tak banyak yang ingin aku ucapkan sayang, hanya -- semoga Tuhan selalu mengetuk doa-doa dan niat baik kita yang terikat di langit, dan berharap semestapun turut mengucapkan kata amin.
                                                                                                                               

Rabu, 15 Januari 2020

Aku Disini Lebih Dari Sekedar Menanti





Beberapa hari belakangan, Jakarta berlangitkan kelabu. Menumpahkan segala kesedihan bersama gerimis. Saat hujan mulai datang, dinginnya mulai mendekap seolah menggambarkan kesendirianku yang telah lama ditinggalkan olehmu.
***


Baru saja aku terbangun dari tidur di sepertiga malam menjelang hari Sabtu yang tenang. Ini adalah kali kesekian aku memimpikanmu, laki-laki yang telah menemaniku selama 5 tahun belakangan. Aku terdiam. Air mata jatuh satu persatu. Malam hariku selalu dibanjiri oleh air mata rasa sakit, perasaan-perasaan bersalah pernah menyuruhmu pergi, perasaan-perasaan yang justru membuatku semakin mencintaimu.

Andai saja kita masih bersama, mungkin sekarang aku tak merasakan sesakit ini kehilanganmu. Kita pernah menjadi sepasang kekasih yang lucu, menikmati hari sembari duduk di bangku taman adalah  kebiasaan yang tak pernah terlupa, dan kamu masih harus melunasi hutangmu mentraktirku gelato rasa coklat. Gak cuma gelato, masih banyak janji-janji lainnya yang belum kau tepati. Ah…iya, taman bunga matahari! Terakhir kau juga berjanji akan mengajakku berkunjung ke taman bunga matahari, kan? Niel, apakah disana kau juga masih mengingatnya?

Hatiku sesak. Beberapa pria yang datang pun tak lantas mampu mengobati, bahkan mereka kerap mengirimkan surat cinta berisi pujian-pujian layaknya orang yang sedang jatuh hati. Nyatanya tak ada satupun yang berhasil membuatku berhenti memikirkanmu. Mungkin karena cinta yang mereka tawarkan tak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang kau beri di waktu lalu.

Tahukah kau Niel, bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu sedangkan segala hal tentangmu tak akan pernah bisa hilang sepenuhnya. Justru semakin mencoba melupakan, bayanganmu semakin kuat di dalam ingatan.

 “Ingin hilang ingatan. Sejenak saja.” ucapku dalam hati. Nyatanya hanya sebatas angan. Saat kelopak mata mulai meredup dan mengatup perlahan, lebih baik memutuskan segera memejam untuk mengalihkan segala yang sesak agar pikiranku tak terlempar pada kenangan yang seharusnya bisa dilupakan.

Aku pernah memintamu pergi, namun kau bersikeras untuk tetap tinggal. Aku menyesal, kau sudah pamit bahkan tak pernah menoleh untuk kembali. Barangkali semua kesakitan yang kini ku rasakan adalah balasan dari sikap abaiku terhadapmu dulu.

Teruntuk Niel, percayalah aku disini lebih dari sekedar menanti. Aku hanya ingin meyakinkanmu bahwa semuanya akan kembali membaik ketika kita bersama, tak ada yang perlu kau ragukan. Tak ada yang berubah sekalipun itu perasaanku dan aku berjanji akan membuatmu nyaman. Membuatmu merasa dicintai tanpa harus berkata banyak cinta kepadamu. Selebihnya, biar hatimu saja yang menerka seberapa jauh kedalaman cintaku.


Jika suatu hari nanti kau mulai merindukanku, ketahuilah bahwa aku masih tetap disini. Masih sama, masih aku yang selalu siap menjadi pendengar setia setiap kali kau bercerita tentang apa saja. Yang selalu menyediakan lengan untuk memeluk setiap lelahmu, juga sebagai rumah untukmu beristirahat dan tinggal. Inginku hanya satu, semoga Tuhan lekas meniadakan jarak diantara kita. Dan aku akan terus menunggumu, selamanya entah sampai kapan. Bahkan saat kau sedang berusaha untuk melupakanku sekalipun, yakinlah bahwa hal itu tak sampai membuatku untuk tak lagi mencintaimu.