Senin, 14 Agustus 2017

Parameter Bahagia


Teruntuk kamu, laki-laki yang pernah aku cintai sejadi-jadinya .


Dulu, kita pernah punya mimpi yang sama, walau pada akhirnya jalan harus berbeda .

Aku yang dulu tertatih berjalan ke arahmu, yang sering tak kamu hiraukan, yang sering  kamu abaikan .



Dulu, parameter bahagiaku adalah berada di sampingmu, bahagia yang awalnya aku persiapkan untuk menemanimu, kemanapun, dan kapanpun.

Sebab, perjalanan selama bertahun-tahun sungguh penuh liku dan luka, bukan? 

Maka, dengan tetap bersama adalah sebaik-baiknya cara untuk menghindari kecemasan dan ketakutan terhadap perpisahan . 



Namun, ketakutan-ketakutan itu ternyata benar-benar terjadi.

Sampai di suatu hari aku tidak memiliki alasan untuk mencintai kamu lagi .



Aku tidak pernah menyangkal tentang apa-apa yang terjadi dalam hidupku . 
Tentang kepada siapa aku jatuh cinta, tentang kepada siapa perasaanku di patahkan .



Sesungguhnya, aku pernah sangat bahagia bersamamu, meski pada akhirnya aku punya jawaban bahwa mencintai kamu adalah bukan pilihan terbaik dalam hidupku . 



Ini cerita tentang dua orang yang sudah saling berbeda . 
Mungkin kamu, adalah pilihan yang tidak dipilihkan Tuhan untukku .