Minggu, 21 April 2019

Seiring Waktu Berjalan - Sedang Rindu





Minggu dini hari pukul sekian.
Ditemani secangkir teh hangat serta alunan musik folk favorit yang syairnya seolah sedang memelukku dengan erat. 

Tak seperti malam-malam sebelumnya,
kini rinduku tampak curang.
Malam yang dipenuhi rindu yang enggan berbagi,
rindu yang tak pernah mau berkurang.

Disegala harap, ku langitkan doa satu persatu untuk pergi menuju kamu.
Perempuan yang sedang jatuh cinta kan memang begitu. 
Lihai dalam meramu rindu,
hingga seisi kepalanya penuh tentangmu. 

Meski jalan ini berdebu, kekasih
Namun ku tetap setia menunggu
Kelak saat kita dipertemukan oleh waktu Sesekali merebahlah di dadaku agar kamu mendengar; namamu berdetak setiap kali jantungku ini mulai berdegup.

kenangan tak pernah habis di makan waktu. kamu, masihkan menyelipkan namaku di kabut pikiranmu ? 

aku ingin menjadi senyum yang paling pagi untukmu sekaligus peluk yang paling hangat sebelum kau terlelap.
senja, yang tanpamu.

mungkin taman tak lagi seceria dulu.
mungkin bunga-bunga tak lagi nampak mekar dengan cantiknya di sepanjang musim ini.
mungkin kupu-kupu tak lagi terlihat berterbangan kesana kemari dan mengecup madu pada bunga-bunga itu.

di sebuah senja yang tanpamu, aku merindu.
sejak kapan kau menjadi penerka yang ulung, menebak seberapa kedalaman cintaku.
kau pernah berjanji menetap tapi kau juga yang mencuranginya lalu pergi.
lalu kau datang seolah mengiba pada hati yang pernah kau sakiti.
barangkali kau memang berbakat dalam menggores luka, sedangkan aku; hanyalah jemari-jemari yang kerap menuliskanmu menjadi puisi.
Kelak, kau pasti akan merindukanku; sebagai penyair yang piawai memainkan sajak-sajak tentangmu.