Beberapa
hari belakangan, Jakarta berlangitkan kelabu. Menumpahkan segala kesedihan
bersama gerimis. Saat hujan mulai datang, dinginnya mulai mendekap seolah
menggambarkan kesendirianku yang telah lama ditinggalkan olehmu.
***
Baru
saja aku terbangun dari tidur di sepertiga malam menjelang hari Sabtu yang tenang.
Ini adalah kali kesekian aku memimpikanmu, laki-laki yang telah menemaniku selama
5 tahun belakangan. Aku terdiam. Air mata jatuh satu persatu. Malam hariku
selalu dibanjiri oleh air mata rasa sakit, perasaan-perasaan bersalah pernah
menyuruhmu pergi, perasaan-perasaan yang justru membuatku semakin mencintaimu.
Andai
saja kita masih bersama, mungkin sekarang aku tak merasakan sesakit ini
kehilanganmu. Kita pernah menjadi sepasang kekasih yang lucu, menikmati hari
sembari duduk di bangku taman adalah
kebiasaan yang tak pernah terlupa, dan kamu masih harus melunasi
hutangmu mentraktirku gelato rasa coklat. Gak cuma gelato, masih banyak
janji-janji lainnya yang belum kau tepati. Ah…iya, taman bunga matahari!
Terakhir kau juga berjanji akan mengajakku berkunjung ke taman bunga matahari,
kan? Niel, apakah disana kau juga masih mengingatnya?
Hatiku
sesak. Beberapa pria yang datang pun tak lantas mampu mengobati, bahkan mereka
kerap mengirimkan surat cinta berisi pujian-pujian layaknya orang yang sedang
jatuh hati. Nyatanya tak ada satupun yang berhasil membuatku berhenti
memikirkanmu. Mungkin karena cinta yang mereka tawarkan tak ada apa-apanya
dibandingkan dengan yang kau beri di waktu lalu.
Tahukah
kau Niel, bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu sedangkan segala hal tentangmu
tak akan pernah bisa hilang sepenuhnya. Justru semakin mencoba melupakan, bayanganmu
semakin kuat di dalam ingatan.
“Ingin hilang ingatan. Sejenak saja.” ucapku
dalam hati. Nyatanya hanya sebatas angan. Saat kelopak mata mulai meredup dan
mengatup perlahan, lebih baik memutuskan segera memejam untuk mengalihkan
segala yang sesak agar pikiranku tak terlempar pada kenangan yang seharusnya
bisa dilupakan.
Aku
pernah memintamu pergi, namun kau bersikeras untuk tetap tinggal. Aku menyesal,
kau sudah pamit bahkan tak pernah menoleh untuk kembali. Barangkali semua
kesakitan yang kini ku rasakan adalah balasan dari sikap abaiku terhadapmu
dulu.
Teruntuk
Niel, percayalah aku disini lebih dari sekedar menanti. Aku hanya ingin
meyakinkanmu bahwa semuanya akan kembali membaik ketika kita bersama, tak ada
yang perlu kau ragukan. Tak ada yang berubah sekalipun itu perasaanku dan aku berjanji
akan membuatmu nyaman. Membuatmu merasa dicintai tanpa harus berkata banyak
cinta kepadamu. Selebihnya, biar hatimu saja yang menerka seberapa jauh
kedalaman cintaku.
Jika
suatu hari nanti kau mulai merindukanku, ketahuilah bahwa aku masih tetap
disini. Masih sama, masih aku yang selalu siap menjadi pendengar setia setiap kali
kau bercerita tentang apa saja. Yang selalu menyediakan lengan untuk memeluk
setiap lelahmu, juga sebagai rumah untukmu beristirahat dan tinggal. Inginku
hanya satu, semoga Tuhan lekas meniadakan jarak diantara kita. Dan aku akan
terus menunggumu, selamanya entah sampai kapan. Bahkan saat kau sedang berusaha
untuk melupakanku sekalipun, yakinlah bahwa hal itu tak sampai membuatku untuk
tak lagi mencintaimu.