Kamis, 01 Mei 2014


merayakan rindu

  
senin dini hari pukul sekian,
rinduku riuh memanggil namamu.

malam ini, tepat 2 tahun kita tidak bertemu.
masih sama,
dengan perasaan-perasaan yang tak pernah bisa di hilangkan.
pun kenangan yang enggan untuk di padamkan.
dan kau tau?
kenyataan telah berkali memancingku untuk memangkas habis seluruh memori tentangmu yang terekam di seisi kepalaku,
tapi apakah berhasil?
tidak.

" saat kau sedang merasa benar-benar  merindukanku, di saat itu juga aku sedang benar-benar memikirkanmu " ,
katamu dulu.

kau bilang, obat terbaik kangen adalah dengan melihat langit.


aku beranjak dari kasur menuju balkon.
menengadahkan kepala ke langit,
menunjuk satu bintang yang paling terang.

itu kamu,
yang masih terang walau hati padam temaram.
yang enggan redup walau di hantam gelapnya malam.
 
airmata jatuh,
mengingat segala yang hilang,
mengingat segala kenangan;
yang semuanya tentangmu.


apakah rindu memang semenyakitkan ini, sayang?



 

Rabu, 23 April 2014



darimu; aku belajar bagaimana cara menabahkan luka, hingga tak ada lagi apa yang di sebut air mata ~ 



aku menuliskanmu sebagai puisi; sebagai kerinduan-kerinduan yang tak tersampaikan, yang terabaikan .



tamparan paling hebat adalah kenyataan .
seperti di tusuk belati dan di cabut paksa, perih , sakit .

ada hal-hal yang mampu di simpan rapat-rapat,
ada pula yang harus di buang, di hapus di segala ingatan .

kamu memilih yang mana ?

kenyataan mengharuskan untuk lupa, tapi tidak dengan perasaan-perasaan yang terlanjur suka .

ini untuk kamu; yang enggan ku-sebutkan-namanya .
kamu, silahkan pergi; hati sudah tak ingin membiarkanku merasakan apa-apa tentangmu (lagi)








Semenjak kepergianmu, puisi tak lagi berwarna, ia lebih memilih tinta warna hitam daripada biru, kesukaanmu .

Dan puisi kini tak lagi mampu menuliskan segala tentangku yang rindu, pun segala yang bernamakan kamu .







barangkali; kau lupa cara mengingatku . hingga kau acuh, hingga kau abai, hingga kau tak peduli, lagi ~
Ini bukan perihal apa-apa


Jika memang hati sudah menetapkan pada sesiapa yang akan tinggal, apakah tega di biarkan pergi?
Hati tak pernah bisa di paksakan
Tentang siapa yang akan tinggal
Pun pergi
Tapi,
Jika memang saling menginginkan, akankah hanya sekedar menjadi angan?


Dini hari pukul sekian,
Tepat di sepertiga malam aku berdoa .
Mulut tak bergeming, diam; hati berkecamuk, seisi kepala di penuhi pikiran; tentangmu.

ialah kamu; seseorang yang tak jua di amien-kan oleh semesta .

Doa-doa menjelma taman, disana ada seorang anak kecil sedang berlarian riang .
Ia membawa sekotak bingkisan untukku, " kak .. ini untuk kakak "
aku membukanya ..


" inilah rindu, yang tak pernah habis di makan waktu, inilah rindu, yang masih tentangmu "

Akupun tersenyum .


Ini bukan perihal apa-apa
Ini tentang, siapa yang pantas pergi, dan siapa yang pantas; untuk di nanti ~