Senin, 14 Agustus 2017

Parameter Bahagia


Teruntuk kamu, laki-laki yang pernah aku cintai sejadi-jadinya .


Dulu, kita pernah punya mimpi yang sama, walau pada akhirnya jalan harus berbeda .

Aku yang dulu tertatih berjalan ke arahmu, yang sering tak kamu hiraukan, yang sering  kamu abaikan .



Dulu, parameter bahagiaku adalah berada di sampingmu, bahagia yang awalnya aku persiapkan untuk menemanimu, kemanapun, dan kapanpun.

Sebab, perjalanan selama bertahun-tahun sungguh penuh liku dan luka, bukan? 

Maka, dengan tetap bersama adalah sebaik-baiknya cara untuk menghindari kecemasan dan ketakutan terhadap perpisahan . 



Namun, ketakutan-ketakutan itu ternyata benar-benar terjadi.

Sampai di suatu hari aku tidak memiliki alasan untuk mencintai kamu lagi .



Aku tidak pernah menyangkal tentang apa-apa yang terjadi dalam hidupku . 
Tentang kepada siapa aku jatuh cinta, tentang kepada siapa perasaanku di patahkan .



Sesungguhnya, aku pernah sangat bahagia bersamamu, meski pada akhirnya aku punya jawaban bahwa mencintai kamu adalah bukan pilihan terbaik dalam hidupku . 



Ini cerita tentang dua orang yang sudah saling berbeda . 
Mungkin kamu, adalah pilihan yang tidak dipilihkan Tuhan untukku .


Selasa, 14 Februari 2017



kau nadi dan aku iramanya,
ketukanku mengiringi denyutmu
yang lambat laun mati dilumat rindu.


tulisan itu tidak lagi kamu, bukan lagi kita
dan segala yang ku tuliskan sebagai puisi adalah kenangan

Kamis, 01 Mei 2014


merayakan rindu

  
senin dini hari pukul sekian,
rinduku riuh memanggil namamu.

malam ini, tepat 2 tahun kita tidak bertemu.
masih sama,
dengan perasaan-perasaan yang tak pernah bisa di hilangkan.
pun kenangan yang enggan untuk di padamkan.
dan kau tau?
kenyataan telah berkali memancingku untuk memangkas habis seluruh memori tentangmu yang terekam di seisi kepalaku,
tapi apakah berhasil?
tidak.

" saat kau sedang merasa benar-benar  merindukanku, di saat itu juga aku sedang benar-benar memikirkanmu " ,
katamu dulu.

kau bilang, obat terbaik kangen adalah dengan melihat langit.


aku beranjak dari kasur menuju balkon.
menengadahkan kepala ke langit,
menunjuk satu bintang yang paling terang.

itu kamu,
yang masih terang walau hati padam temaram.
yang enggan redup walau di hantam gelapnya malam.
 
airmata jatuh,
mengingat segala yang hilang,
mengingat segala kenangan;
yang semuanya tentangmu.


apakah rindu memang semenyakitkan ini, sayang?



 

Rabu, 23 April 2014



darimu; aku belajar bagaimana cara menabahkan luka, hingga tak ada lagi apa yang di sebut air mata ~ 



aku menuliskanmu sebagai puisi; sebagai kerinduan-kerinduan yang tak tersampaikan, yang terabaikan .



tamparan paling hebat adalah kenyataan .
seperti di tusuk belati dan di cabut paksa, perih , sakit .

ada hal-hal yang mampu di simpan rapat-rapat,
ada pula yang harus di buang, di hapus di segala ingatan .

kamu memilih yang mana ?

kenyataan mengharuskan untuk lupa, tapi tidak dengan perasaan-perasaan yang terlanjur suka .

ini untuk kamu; yang enggan ku-sebutkan-namanya .
kamu, silahkan pergi; hati sudah tak ingin membiarkanku merasakan apa-apa tentangmu (lagi)