Parameter Bahagia
Teruntuk kamu, laki-laki yang pernah aku cintai sejadi-jadinya .
Dulu, kita pernah punya mimpi yang sama, walau pada akhirnya jalan harus berbeda .
Aku yang dulu tertatih berjalan ke arahmu, yang sering tak kamu hiraukan, yang sering kamu abaikan .
Dulu,
parameter bahagiaku adalah berada di sampingmu, bahagia yang awalnya
aku persiapkan untuk menemanimu, kemanapun, dan kapanpun.
Sebab, perjalanan selama bertahun-tahun sungguh penuh liku dan luka, bukan?
Maka, dengan tetap bersama adalah sebaik-baiknya cara untuk menghindari kecemasan dan ketakutan terhadap perpisahan .
Namun, ketakutan-ketakutan itu ternyata benar-benar terjadi.
Sampai di suatu hari aku tidak memiliki alasan untuk mencintai kamu lagi .
Aku
tidak pernah menyangkal tentang apa-apa yang terjadi dalam hidupku .
Tentang kepada siapa aku jatuh cinta, tentang kepada siapa perasaanku di
patahkan .
Sesungguhnya,
aku pernah sangat bahagia bersamamu, meski pada akhirnya aku punya
jawaban bahwa mencintai kamu adalah bukan pilihan terbaik dalam hidupku
.
Ini cerita tentang dua orang yang sudah saling berbeda .
Mungkin kamu, adalah pilihan yang tidak dipilihkan Tuhan untukku .