Kamis, 21 September 2017



Aku pernah menunggumu dengan bijak
Dengan dada yang dibiarkan lapang
Pun kenangan yang semakin terang dalam ingatan
Lalu ku biarkan rinduku menua bersama waktu

September yang resah
Seperti kelopak mataku yang kian basah
Aku bernyanyi dipelukan hujan
Bersama malam ku cari bayangmu ditiap rintiknya
Yang ada hanya jarak yang semakin membentang
Perlahan ku tepikan segala harapan
Mencintaimu kini serupa belati yang ditancapkan tepat diulu hati

Tak perlu khawatir, sayang
Di batas penantian
Hatiku tabah menerima segala kehilangan

 


berlatar gerimis, aku menjengukmu diam-diam sewaktu kau terhanyut dalam pilu
dan memanggil namaku penuh rindu

Kamis, 07 September 2017








Bukan perkara mudah menghidupkan degup yang pernah mati
Lalu kau datang temani ribuan hari
Seperti langkah-langkah menuju kaki langit 
Rasanya teduh seperti hujan di mimpi

Dan bila gempa datang silih berganti
Hilangkan risau, kita berlari menuju pagi

Sekuat karang kita bertahan
Berdua itu indah, percayalah




terinspirasi dari lagu Banda Neira, Hujan di Mimpi.

Senin, 14 Agustus 2017

Parameter Bahagia


Teruntuk kamu, laki-laki yang pernah aku cintai sejadi-jadinya .


Dulu, kita pernah punya mimpi yang sama, walau pada akhirnya jalan harus berbeda .

Aku yang dulu tertatih berjalan ke arahmu, yang sering tak kamu hiraukan, yang sering  kamu abaikan .



Dulu, parameter bahagiaku adalah berada di sampingmu, bahagia yang awalnya aku persiapkan untuk menemanimu, kemanapun, dan kapanpun.

Sebab, perjalanan selama bertahun-tahun sungguh penuh liku dan luka, bukan? 

Maka, dengan tetap bersama adalah sebaik-baiknya cara untuk menghindari kecemasan dan ketakutan terhadap perpisahan . 



Namun, ketakutan-ketakutan itu ternyata benar-benar terjadi.

Sampai di suatu hari aku tidak memiliki alasan untuk mencintai kamu lagi .



Aku tidak pernah menyangkal tentang apa-apa yang terjadi dalam hidupku . 
Tentang kepada siapa aku jatuh cinta, tentang kepada siapa perasaanku di patahkan .



Sesungguhnya, aku pernah sangat bahagia bersamamu, meski pada akhirnya aku punya jawaban bahwa mencintai kamu adalah bukan pilihan terbaik dalam hidupku . 



Ini cerita tentang dua orang yang sudah saling berbeda . 
Mungkin kamu, adalah pilihan yang tidak dipilihkan Tuhan untukku .


Selasa, 14 Februari 2017



kau nadi dan aku iramanya,
ketukanku mengiringi denyutmu
yang lambat laun mati dilumat rindu.


tulisan itu tidak lagi kamu, bukan lagi kita
dan segala yang ku tuliskan sebagai puisi adalah kenangan

Kamis, 01 Mei 2014


merayakan rindu

  
senin dini hari pukul sekian,
rinduku riuh memanggil namamu.

malam ini, tepat 2 tahun kita tidak bertemu.
masih sama,
dengan perasaan-perasaan yang tak pernah bisa di hilangkan.
pun kenangan yang enggan untuk di padamkan.
dan kau tau?
kenyataan telah berkali memancingku untuk memangkas habis seluruh memori tentangmu yang terekam di seisi kepalaku,
tapi apakah berhasil?
tidak.

" saat kau sedang merasa benar-benar  merindukanku, di saat itu juga aku sedang benar-benar memikirkanmu " ,
katamu dulu.

kau bilang, obat terbaik kangen adalah dengan melihat langit.


aku beranjak dari kasur menuju balkon.
menengadahkan kepala ke langit,
menunjuk satu bintang yang paling terang.

itu kamu,
yang masih terang walau hati padam temaram.
yang enggan redup walau di hantam gelapnya malam.
 
airmata jatuh,
mengingat segala yang hilang,
mengingat segala kenangan;
yang semuanya tentangmu.


apakah rindu memang semenyakitkan ini, sayang?