sejak kapan kau menjadi penerka yang ulung, menebak seberapa kedalaman cintaku.
kau pernah berjanji menetap tapi kau juga yang mencuranginya lalu pergi.
lalu kau datang seolah mengiba pada hati yang pernah kau sakiti.
barangkali kau memang berbakat dalam menggores luka, sedangkan aku; hanyalah jemari-jemari yang kerap menuliskanmu menjadi puisi.
Kelak, kau pasti akan merindukanku; sebagai penyair yang piawai memainkan sajak-sajak tentangmu.