Rabu, 15 Januari 2020

Aku Disini Lebih Dari Sekedar Menanti





Beberapa hari belakangan, Jakarta berlangitkan kelabu. Menumpahkan segala kesedihan bersama gerimis. Saat hujan mulai datang, dinginnya mulai mendekap seolah menggambarkan kesendirianku yang telah lama ditinggalkan olehmu.
***


Baru saja aku terbangun dari tidur di sepertiga malam menjelang hari Sabtu yang tenang. Ini adalah kali kesekian aku memimpikanmu, laki-laki yang telah menemaniku selama 5 tahun belakangan. Aku terdiam. Air mata jatuh satu persatu. Malam hariku selalu dibanjiri oleh air mata rasa sakit, perasaan-perasaan bersalah pernah menyuruhmu pergi, perasaan-perasaan yang justru membuatku semakin mencintaimu.

Andai saja kita masih bersama, mungkin sekarang aku tak merasakan sesakit ini kehilanganmu. Kita pernah menjadi sepasang kekasih yang lucu, menikmati hari sembari duduk di bangku taman adalah  kebiasaan yang tak pernah terlupa, dan kamu masih harus melunasi hutangmu mentraktirku gelato rasa coklat. Gak cuma gelato, masih banyak janji-janji lainnya yang belum kau tepati. Ah…iya, taman bunga matahari! Terakhir kau juga berjanji akan mengajakku berkunjung ke taman bunga matahari, kan? Niel, apakah disana kau juga masih mengingatnya?

Hatiku sesak. Beberapa pria yang datang pun tak lantas mampu mengobati, bahkan mereka kerap mengirimkan surat cinta berisi pujian-pujian layaknya orang yang sedang jatuh hati. Nyatanya tak ada satupun yang berhasil membuatku berhenti memikirkanmu. Mungkin karena cinta yang mereka tawarkan tak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang kau beri di waktu lalu.

Tahukah kau Niel, bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu sedangkan segala hal tentangmu tak akan pernah bisa hilang sepenuhnya. Justru semakin mencoba melupakan, bayanganmu semakin kuat di dalam ingatan.

 “Ingin hilang ingatan. Sejenak saja.” ucapku dalam hati. Nyatanya hanya sebatas angan. Saat kelopak mata mulai meredup dan mengatup perlahan, lebih baik memutuskan segera memejam untuk mengalihkan segala yang sesak agar pikiranku tak terlempar pada kenangan yang seharusnya bisa dilupakan.

Aku pernah memintamu pergi, namun kau bersikeras untuk tetap tinggal. Aku menyesal, kau sudah pamit bahkan tak pernah menoleh untuk kembali. Barangkali semua kesakitan yang kini ku rasakan adalah balasan dari sikap abaiku terhadapmu dulu.

Teruntuk Niel, percayalah aku disini lebih dari sekedar menanti. Aku hanya ingin meyakinkanmu bahwa semuanya akan kembali membaik ketika kita bersama, tak ada yang perlu kau ragukan. Tak ada yang berubah sekalipun itu perasaanku dan aku berjanji akan membuatmu nyaman. Membuatmu merasa dicintai tanpa harus berkata banyak cinta kepadamu. Selebihnya, biar hatimu saja yang menerka seberapa jauh kedalaman cintaku.


Jika suatu hari nanti kau mulai merindukanku, ketahuilah bahwa aku masih tetap disini. Masih sama, masih aku yang selalu siap menjadi pendengar setia setiap kali kau bercerita tentang apa saja. Yang selalu menyediakan lengan untuk memeluk setiap lelahmu, juga sebagai rumah untukmu beristirahat dan tinggal. Inginku hanya satu, semoga Tuhan lekas meniadakan jarak diantara kita. Dan aku akan terus menunggumu, selamanya entah sampai kapan. Bahkan saat kau sedang berusaha untuk melupakanku sekalipun, yakinlah bahwa hal itu tak sampai membuatku untuk tak lagi mencintaimu.





Kamis, 20 Juni 2019


Aku percaya bahwa; setiap doa-doa yang baik kelak akan diaminkan oleh semesta. Aku ingat kala itu pernah memintamu berulang-ulang melewati doa di sepertiga malam. Hingga hari itu tiba, seseorang yang ku definisikan sebagai yang penyabar dan setia hadir di depan mata. Aku tak pernah merencanakan kepada siapa akan jatuh cinta, tetapi paling tidak, ketika bersamanya kita tahu laki-laki ini mampu menjaga hingga selamanya. 
Aku bukan perempuan yang terlalu pemilih, namun sekali lagi, hati tak mungkin bisa berbohong.  Tentang kepada siapa ia akan jatuh, -pun kepada siapa ia merasa benar-benar sejiwa. Inginku hanya satu; tak hanya menjadi tempatmu singgah tapi juga sebagai rumah untuk melepas lelah dari setiap perjalananmu. Menetaplah kamu, disini, di rumah yang ku sebut; kita. 


      

Minggu, 21 April 2019

Seiring Waktu Berjalan - Sedang Rindu





Minggu dini hari pukul sekian.
Ditemani secangkir teh hangat serta alunan musik folk favorit yang syairnya seolah sedang memelukku dengan erat. 

Tak seperti malam-malam sebelumnya,
kini rinduku tampak curang.
Malam yang dipenuhi rindu yang enggan berbagi,
rindu yang tak pernah mau berkurang.

Disegala harap, ku langitkan doa satu persatu untuk pergi menuju kamu.
Perempuan yang sedang jatuh cinta kan memang begitu. 
Lihai dalam meramu rindu,
hingga seisi kepalanya penuh tentangmu. 

Meski jalan ini berdebu, kekasih
Namun ku tetap setia menunggu
Kelak saat kita dipertemukan oleh waktu Sesekali merebahlah di dadaku agar kamu mendengar; namamu berdetak setiap kali jantungku ini mulai berdegup.

kenangan tak pernah habis di makan waktu. kamu, masihkan menyelipkan namaku di kabut pikiranmu ? 

aku ingin menjadi senyum yang paling pagi untukmu sekaligus peluk yang paling hangat sebelum kau terlelap.
senja, yang tanpamu.

mungkin taman tak lagi seceria dulu.
mungkin bunga-bunga tak lagi nampak mekar dengan cantiknya di sepanjang musim ini.
mungkin kupu-kupu tak lagi terlihat berterbangan kesana kemari dan mengecup madu pada bunga-bunga itu.

di sebuah senja yang tanpamu, aku merindu.
sejak kapan kau menjadi penerka yang ulung, menebak seberapa kedalaman cintaku.
kau pernah berjanji menetap tapi kau juga yang mencuranginya lalu pergi.
lalu kau datang seolah mengiba pada hati yang pernah kau sakiti.
barangkali kau memang berbakat dalam menggores luka, sedangkan aku; hanyalah jemari-jemari yang kerap menuliskanmu menjadi puisi.
Kelak, kau pasti akan merindukanku; sebagai penyair yang piawai memainkan sajak-sajak tentangmu.